Musni Umar Komentari Karya Ilmiah Megawati untuk Gelar Profesor, Katanya…

  • Whatsapp
Musni Umar
Rektor Universitas Ibnu Chaldun, Musni Umar.(pojoksatu.id)

IDTOPIK.COM – Karya ilmiah Megawati Soekarnoputri dikomentasi Rektor Universitas Ibnu Chaldun, Profesor Musni Umar.

Karya ilmiah itu mengantarkan Presiden Kelima RI itu mendapat gelar profesor kehormatan dari Universitas Pertahanan.

Bacaan Lainnya

Gelar profesor itu sendiri rencananya akan diberikan kepada Megawati pada Jumat (11/6).

Karya ilmiah Megawati berjudul “Kepemimpinan Presiden Megawati Pada Era Krisis Multidimensi, 2001-2004”.

Baca Juga: Profesor Kehormatan Untuk Megawati Bermuatan Barter Politik Prabowo Hadapi Pilpres 2024 

Baca Juga:  Ketum Masyumi: Unhan Harus Arif Dan Bijaksana Soal Pemberian Profesor Untuk Megawati

Tulisan tersebut kabarnya dikirim ke Jurnal Pertahanan dan Bela Negara volume 11, Nomor 1 tahun 2021 milik Universitas Pertahanan.

Salah satu yang menjadi sorotan adalah pengantar gelar profesor kehormatan itu berisi pengalaman mengatasi krisis multidimensi yang dihadapi negara dalam waktu singkat.

Pengalaman tersebut merujuk saat Mega berkuasa pada periode 2001 sampai 2004 sebagai Presiden RI.

Musni Umar memandang, sah-sah saja Megawati menulis karya ilmiah yang berisi rekam jejak kinerjanya selama menjadi presiden RI.

Baca Juga: Adhie Massardi: Kalau Kata Dan Tindakan Pemimpin Bisa Sejalan, Peradaban Akan Terjaga 

Meski seperti autobiografi dan narsisme, publik bisa menilai sendiri apakah isi karya ilmiah tersebut sesuai yang dirasakan rakyat atau tidak.

Baca Juga:  Petinggi Demokrat Ketawai Direktur Indo Barometer,” Haha Qodari Ini Memang Sedang Kenceng”

“Biarkan publik yang menilai. Tentu selama menjadi presiden, beliau banyak mencatatkan prestasi,” kata Musni Umar kepada RMOL (jaringan PojokSatu.id), Kamis (10/6/2021).

“Namun tak bisa dinafikkan juga kalau ada yang menilai sebaliknya,” sambungnya.

Semasa menjadi Presiden, beberapa kebijakan Mega sempat disorot.

Mulai dari penjualan sebagian saham PT Indosat ke Singapore Technologies Telemedia (STT) tahun 2002 silam.

Baca Juga: Profesor Rochmat Wahab: Kalau Megawati Dianggap Berhasil, Seharusnya Dulu Dia Menang Pilpres 

Hingga munculnya kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

“Kita kan negara demokrasi, tentu ada yang menilai demikian. Soal etis tidak etis beliau menulis pengalaman pribadinya, itu masing- masing orang punya pandangan,” jelasnya.

Baca Juga:  Bukan Dengan Puan Maharani, Duet Megawati-Prabowo Diusulkan Lagi di Pilpres 2024

Yang jelas, kata dia, pemberian gelar profesor kehormatan oleh Unhan tersebut tak bisa dilepaskan dari unsur politik.

“Tentu beliau diuntungkan dengan posisinya sebagai politisi. Karena bila dibandingkan dengan akademisi, itu sulit sekali mendapat gelar profesor,” tandasnya.

Baca Juga: Anies dan Ridwan Kamil Minum Teh Botol Sosro di Depan Foto SBY, Sindir Siapa Gerangan?

Sumber: pojoksatu.id

Tinggalkan Balasan